Pemadaman internet dan komunikasi di Iran sejak awal Januari membuat warga Iran di Singapura hidup dalam kecemasan. Bagi mereka, jarak geografis terasa semakin jauh ketika akses untuk menghubungi keluarga dan sahabat di tanah air tiba-tiba terputus.
Keith, warga Iran asal Teheran yang telah lama menetap di Singapura, mengatakan komunikasi mingguan dengan keluarganya mendadak berhenti sejak 8 Januari. Akses ke aplikasi pesan instan dan panggilan internasional terblokir, menyusul protes anti-pemerintah berskala besar yang melanda berbagai kota, menurut laporan Bloomberg.
Satu-satunya kemungkinan adalah jika mereka berhasil menelepon saya. Saya sama sekali tidak bisa menghubungi mereka kembali, ujarnya. Pemadaman komunikasi membuatnya merasa tidak berdaya, terutama karena orang tuanya telah lanjut usia.
Diaspora Iran di Singapura Hadapi Ketidakpastian
Situasi di Iran kian mengkhawatirkan. Tuna55 melaporkan bahwa kerusuhan yang dipicu oleh kenaikan harga telah menewaskan lebih dari 2.500 orang. Kekhawatiran internasional meningkat, dengan sejumlah negara meminta warganya meninggalkan Iran di tengah risiko konflik yang meluas.
Bagi Ibu Nel, warga Singapura keturunan Iran, kecemasan itu bersifat sangat personal. Ia baru saja mengunjungi keluarganya di Iran bulan lalu bersama suami dan ketiga anaknya. Kini, pesan-pesan yang dikirimnya tak pernah terkirim.
Saya mulai panik ketika tidak ada balasan sejak 8 Januari, katanya. Log WhatsApp yang ia tunjukkan hanya menampilkan satu tanda centang. Rencana kepulangannya ke Iranpada Maret kini dipastikan batal.
Josh, warga Iran dari wilayah Irantengah, menggambarkan situasi komunikasi sebagai setengah terputus. Meski keluarga terkadang dapat menghubunginya lewat telepon rumah, mereka tidak bisa menerima panggilan dan enggan berbicara lama. Mereka takut disadap, ujarnya.
Di balik kesedihan dan ketidakpastian, muncul pula harapan samar. Beberapa diaspora menilai gelombang protes ini menandai fase penting dalam sejarah Iran. Keith menyebut ada optimisme bahwa perubahan mungkin sedang mendekat, meski jalannya penuh risiko.
Saya hanya berharap rakyat Iran bisa melewati masa sulit ini dengan selamat, kata Josh. Bagi warga Iran di Singapura, harapan itu kini menjadi satu-satunya penghubung yang tersisa—ketika jaringan komunikasi resmi terputus.