Miliarder Amerika Serikat Bill Ackman, Pendiri Pershing Square Capital Management itu menyumbangkan dana sebesar USD 10.000 atau sekitar Rp168,6 juta melalui platform GoFundMe untuk seorang agen Immigration and Customs Enforcement (ICE), Jonathan Ross.
Donasi tersebut diberikan menyusul insiden penembakan fatal terhadap seorang demonstran anti-ICE, Renee Nicole Good, yang melibatkan Ross. Nama Ackman tercatat sebagai donatur terbesar dalam penggalangan dana tersebut.
Setelah ramai diperbincangkan di media sosial, Ackman mengonfirmasi langsung donasi itu melalui akun X miliknya. Ia menegaskan sumbangan tersebut didasari prinsip praduga tak bersalah, dengan catatan proses hukum masih berjalan. Pernyataan tersebut dikutip dari laporan New York Post pada Kamis (14/1/2026).
Alasan Donasi dan Respons Publik atas Sikap Bill Ackman
Ackman menyebut dirinya sempat berniat menyumbang ke penggalangan dana bagi keluarga Renee Good. Namun, penggalangan dana tersebut telah ditutup saat ia mencoba berkontribusi. Kampanye untuk keluarga Good—yang ditujukan membantu suami dan tiga anaknya—sebelumnya berhasil menghimpun lebih dari USD 1,5 juta sebelum dihentikan oleh penyelenggara.
Menurut Ackman, insiden tersebut merupakan tragedi dari dua sisi. Ia menilai aparat maupun demonstran sama-sama terjebak dalam situasi yang berkembang cepat dan berujung fatal.
“Negara kita akan lebih kuat jika kita mampu bekerja sama menyelesaikan persoalan kompleks yang memecah belah,” tulis Ackman.
Berdasarkan keterangan otoritas federal, Renee Good tewas setelah diduga mencoba menggunakan kendaraannya sebagai senjata dengan menabrak agen ICE saat operasi berlangsung di Minneapolis. Jonathan Ross kemudian melepaskan tembakan setelah mengalami luka dalam insiden tersebut.
Penggalangan Dana Dari Bill Ackman untuk Biaya Hukum
Penggalangan dana bagi Ross disebut akan digunakan untuk menutup biaya hukum. Hingga kini, total dana yang terkumpul telah melampaui USD 270.000 dan terus bertambah, terutama setelah Ackman membagikannya di media sosial.
Penyelenggara kampanye menyatakan tidak memiliki hubungan pribadi dengan Ross. Mereka juga menyebut akan mengembalikan seluruh donasi apabila hingga 9 Maret tidak memperoleh konfirmasi dari keluarga Ross.
Dari sudut pandang finansial, donasi USD 10.000 tergolong sangat kecil dibandingkan kekayaan bersih Ackman yang diperkirakan mencapai USD 9,3 miliar—atau sekitar 0,0001 persen dari total asetnya. Meski demikian, langkah tersebut memicu perdebatan luas tentang batas antara filantropi pribadi dan pengaruh figur publik terhadap opini sosial.
Ambisi Investasi: Ackman Ingin Ikuti Jejak Warren Buffett
Di luar kontroversi donasi, Bill Ackman juga tengah menjadi perhatian karena ambisinya di dunia investasi. Ia disebut ingin meniru strategi Warren Buffett dalam membangun konglomerat investasi jangka panjang.
Di bawah kepemimpinan Buffett, Berkshire Hathaway berkembang dari perusahaan tekstil kecil menjadi raksasa bernilai triliunan dolar. Sejak 1965, saham Berkshire mencatatkan rata-rata imbal hasil tahunan sekitar 20 persen.
Ackman kini berupaya mengadopsi pendekatan serupa melalui Howard Hughes Holdings. Pershing Square saat ini menguasai sekitar 46,9 persen saham perusahaan tersebut, dengan visi menjadikannya kendaraan investasi jangka panjang ala Berkshire Hathaway versi modern.
Ackman juga tercatat masuk dalam jajaran 20 besar manajer hedge fund dengan keuntungan bersih tertinggi. Dalam lima tahun terakhir, kinerja Pershing Square melampaui indeks S&P 500 sekitar 28 poin persentase.
Saham Amazon Jadi Fokus Investasi
Salah satu langkah investasi terbarunya adalah membeli saham Amazon dan Uber Technologies. Sejak Januari 2023, saham Amazon dan Uber masing-masing telah naik sekitar 160 persen dan 270 persen.
Mengutip Yahoo Finance (6/7/2025), Ackman mulai mengakumulasi saham Amazon pada kuartal kedua 2024. Chief Investment Officer Pershing Square, Ryan Israel, menyatakan pihaknya optimistis Amazon mampu mengatasi perlambatan di divisi Amazon Web Services (AWS), serta relatif kebal terhadap dampak tarif impor di bisnis ritel.
Wall Street memproyeksikan laba Amazon tumbuh sekitar 10 persen per tahun hingga 2026. Meski rasio harga terhadap laba (P/E) berada di kisaran 36 kali, Amazon masih memimpin di sektor e-commerce dan komputasi awan, sekaligus menjadi pemain besar ketiga di industri iklan digital Tuna55.
Menurut riset Grand View Research, tiga pasar utama Amazon—e-commerce, ad tech, dan cloud computing—diperkirakan tumbuh dua digit hingga akhir dekade. Proyeksi ini membuka peluang bagi Amazon untuk mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang solid hingga 2030.