Salah satu sosok yang tercatat dalam sejarah adalah Asan bin Tengkoe, pria kelahiran Teupin Raya, Pidie, Aceh, pada 1 Januari 1901, yang memilih bergabung dengan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), pasukan militer bentukan pemerintah kolonial Belanda. Aceh selama ini lekat dengan kisah perlawanan panjang dan gigih terhadap kolonialisme Belanda. Namun, sebagaimana terjadi di berbagai wilayah konflik lainnya, tidak semua individu mengambil jalur yang sama.
Perlu ditegaskan bahwa kisah ini disajikan semata-mata berdasarkan catatan arsip resmi Belanda serta dokumentasi makam yang tersedia. Penulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi atau membenarkan pilihan Asan bin Tengkoe, melainkan untuk menggambarkan realitas sejarah dan memahami kerumitan keputusan yang dihadapi prajurit pribumi pada masa peperangan.
Di media sosial, sebuah unggahan di Facebook menampilkan foto makam seorang tentara KNIL. Pada batu nisan tersebut tertera nama “Asan bin Tengkoe”, yang menandakan latar belakang Acehnya. Unggahan itu memicu perdebatan di kolom komentar, di mana sebagian warganet menyatakan ketidakpercayaan bahwa ada orang Aceh yang pernah bergabung dengan KNIL. Reaksi tersebut mencerminkan bagaimana sejumlah fakta sejarah masih kerap menimbulkan keterkejutan dan kontroversi hingga kini.
Catatan Arsip Belanda Tentang Asan bin Tengkoe
Berdasarkan arsip Belanda, Asan bin Tengkoe—yang juga tercatat dengan nama Hasan bin Tengku—merupakan anggota KNIL/Bew II. Ia meninggal dunia di Cimahi, yang dalam dokumen Belanda ditulis “Tjimahi”, pada 14 Maret 1949. Namanya tercantum dalam Lijst van Gevallenen (Daftar Korban Perang) Pemerintah Belanda, yakni catatan resmi korban yang gugur di Indonesia selama masa konflik.
Data arsip serta dokumentasi makam di situs Belanda menunjukkan bahwa Asan dimakamkan di Ereveld Leuwigajah. Pemakaman kehormatan ini merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia dan dikelola oleh Oorlogsgravenstichting (OGS). Lokasinya berada di Jalan Kerkhof, Leuwigajah, Cimahi Selatan, tersembunyi di balik area pemakaman umum Kristen dan Tionghoa, dan menjadi tempat peristirahatan ribuan korban perang.
Menurut keterangan resmi OGS Indonesia, Ereveld Leuwigajah menampung lebih dari 5.200 jenazah, baik dari kalangan sipil maupun militer. Dengan jumlah tersebut, kompleks ini tercatat sebagai makam kehormatan Belanda terbesar di Indonesia. Pemakaman ini diresmikan pada 20 Desember 1949 dan pada dekade 1960-an menjadi lokasi pemakaman ulang jenazah dari berbagai daerah di Nusantara atas permintaan pemerintah Indonesia.
Area pemakaman ditata rapi dengan hamparan rumput hijau, gazebo di sisi kanan dan kiri pintu masuk, pot-pot bunga yang terpelihara, serta deretan nisan putih yang tersusun simetris. Setiap nisan dilengkapi simbol keagamaan, seperti salib untuk Kristen, bintang Daud bagi Yahudi, dan tanda bintang bagi Muslim, sebagaimana terlihat pada makam Asan bin Tengkoe. Simbol tersebut mencerminkan identitas religius jenazah, bukan pangkat militernya.
Riwayat Dinas Militer Asan bin Tengkoe
Dalam catatan militer, Asan bertugas di Batalyon Penjaga II (Bewakingsbataljon II) dengan pangkat Atj. Kpl. (Ajudan Kopral). Pangkat ini menunjukkan posisinya sebagai bintara non-komisioner tingkat senior. Keberadaan satu bintang pada nisannya menjadi penanda bahwa ia beragama Islam, sebuah bentuk penghormatan terhadap keyakinan individu dalam sistem pemakaman militer Belanda.
Pandangan Pejuang Republik terhadap KNIL Pribumi
Dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia, tentara KNIL dari kalangan pribumi, termasuk Asan, kerap dipandang negatif oleh kalangan pejuang Republik atau Tentara Nasional Indonesia (TNI). Mereka sering dicap sebagai bagian dari kekuatan kolonial dan dianggap berseberangan dengan perjuangan kemerdekaan. Beberapa hal yang tercatat dalam sejarah antara lain:
- Konflik sesama bangsa: Di sejumlah pertempuran, pasukan KNIL pribumi terlibat bentrokan langsung dengan tentara Republik, menciptakan situasi tragis di mana sesama anak bangsa saling berhadapan.
- Stigma pascakemerdekaan: Setelah Indonesia merdeka, banyak mantan prajurit KNIL pribumi mengalami pengucilan dan kesulitan berintegrasi kembali ke dalam masyarakat maupun struktur militer nasional.
- Pilihan hidup yang berat: Sebagian dari mereka akhirnya memilih bermigrasi ke Belanda atau menempuh jalan lain karena merasa tidak mendapatkan tempat di negara yang baru berdiri.
- Dominasi narasi tunggal: Penulisan sejarah Indonesia modern lebih banyak menonjolkan kisah heroik perlawanan terhadap penjajah, sehingga cerita tentang orang Indonesia yang berada di pihak KNIL sering kali terpinggirkan.
Kisah Asan bin Tengkoe, beserta keberadaan makamnya di Ereveld Leuwigajah yang menampung lebih dari 5.200 jenazah korban perang, menjadi bukti nyata dari sisi sejarah yang jarang diangkat. Cerita ini menunjukkan betapa kompleksnya pilihan hidup prajurit pribumi pada masa konflik, sekaligus memperlihatkan bagaimana identitas keagamaan tetap dihormati dalam administrasi pemakaman Belanda—sebuah fakta yang kerap luput dari ingatan publik. Tuna55