You are currently viewing Elektronik dan Udang: Analis Tetap Berhati-hati di Tengah Lonjakan Ekspor India ke China

Elektronik dan Udang: Analis Tetap Berhati-hati di Tengah Lonjakan Ekspor India ke China

Ekspor India ke China menunjukkan tren pemulihan yang cukup menggembirakan sepanjang 2025, didorong oleh peningkatan pengiriman komponen elektronik, produk petrokimia, serta hasil laut seperti udang. Kenaikan ini memberikan sedikit ruang bernapas bagi India, yang saat ini menghadapi tekanan perdagangan besar akibat tarif tinggi dan ancaman sanksi lanjutan dari Amerika Serikat, mitra dagang terbesarnya.

Meski demikian, para analis menilai lonjakan tersebut masih bersifat terbatas dan belum cukup kuat untuk mengoreksi ketidakseimbangan perdagangan struktural yang selama ini menguntungkan China. Namun, mereka sepakat bahwa setiap peningkatan ekspor tetap merupakan sinyal positif di tengah lanskap perdagangan global yang semakin terfragmentasi.

Data resmi menunjukkan bahwa pada periode April hingga Desember 2025, ekspor India ke China meningkat 36,68 persen secara tahunan, mencapai US$14,25 miliar. Angka ini memang terlihat signifikan, tetapi masih jauh tertinggal dibandingkan nilai impor India dari China, yang melonjak dari US$84,57 miliar menjadi US$95,95 miliar pada periode yang sama. Ketimpangan ini kembali menegaskan tingginya ketergantungan India terhadap barang dan bahan baku asal China.

Sekretaris Perdagangan India, Rajesh Agrawal, menyebut pemulihan ekspor tersebut sebagai perkembangan yang menggembirakan setelah periode pelemahan sebelumnya. Ia menilai kalibrasi ulang rantai pasokan global, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionisme, turut membuka peluang bagi India untuk menembus kembali pasar China.

Tekanan eksternal terhadap India semakin meningkat sejak Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif impor baru pada 2025. Pada Agustus, AS menggandakan tarif atas barang-barang India hingga 50 persen sebagai bentuk hukuman atas pembelian minyak Rusia dalam jumlah besar oleh New Delhi. Trump bahkan sempat mengancam akan menaikkan tarif lebih lanjut pada awal 2026. Meski ekspor India ke AS sejauh ini relatif stabil berkat pengecualian untuk produk elektronik dan farmasi, kekhawatiran tetap muncul jika kesepakatan dagang baru gagal dicapai.

Elektronik dan Udang Menjadi Penopang Ekspor India ke China

Analisis rinci oleh Global Trade Research Initiative (GTRI) menemukan bahwa ekspor nafta India melonjak 172 persen dari April hingga Oktober 2025, mencapai US$1,4 miliar, mencerminkan kuatnya permintaan China terhadap bahan baku petrokimia. Namun yang lebih menarik perhatian analis adalah lonjakan ekspor elektronik dari basis yang relatif kecil.

Untuk periode yang sama, ekspor komponen telepon seluler ke China meningkat 82 persen menjadi US$362 juta, sementara ekspor papan sirkuit tercetak melonjak lebih dari 2.000 persen menjadi US$418 juta. Tren ini sejalan dengan meningkatnya peran India dalam rantai nilai elektronik global, terutama ketika perusahaan-perusahaan multinasional seperti Apple secara bertahap memindahkan sebagian rantai pasokan mereka dari China ke India.

Produk elektronik juga termasuk kategori yang dikecualikan dari tarif AS, sehingga ekspornya terus tumbuh pesat. Data pemerintah menunjukkan total ekspor elektronik India melonjak delapan kali lipat dalam satu dekade terakhir, mencapai US$38,56 miliar pada tahun fiskal 2024–2025. Ketua Asosiasi Seluler dan Elektronik India, Pankaj Mohindroo, menilai bahwa China berpotensi menjadi pasar ekspor penting bagi elektronik buatan India dalam dekade mendatang, asalkan India mampu menjaga skala produksi, kualitas, dan efisiensi biaya.

Sementara itu, ekspor udang India ke China juga mengalami peningkatan akibat gangguan di pasar AS. Kepala eksekutif Asosiasi Eksportir Makanan Laut India, K.N. Raghavan, menekankan bahwa lonjakan ini membantu meredam dampak jangka pendek tarif AS, meski China cenderung mengimpor udang mentah dengan nilai tambah lebih rendah dibandingkan produk olahan yang biasanya dibeli AS.

Gambaran Besar dan Tantangan Struktural

Peningkatan perdagangan ini juga terjadi di tengah mencairnya hubungan India–China setelah hampir lima tahun ketegangan sejak sengketa perbatasan berdarah pada 2020. Pertemuan antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Xi Jinping pada Agustus 2025 menjadi sinyal politik penting untuk memperbaiki hubungan ekonomi. Pemerintah India bahkan mempertimbangkan pelonggaran terbatas terhadap pembatasan investasi China, termasuk usulan NITI Aayog agar perusahaan China dapat memiliki hingga 24 persen saham di perusahaan India tanpa persetujuan pemerintah.

Namun, ketergantungan impor India terhadap China tetap tinggi, khususnya untuk bahan baku farmasi, mesin, dan komponen elektronik. Para ekonom Tuna55 mengingatkan bahwa tanpa peningkatan daya saing dan diversifikasi ekspor bernilai tambah tinggi, hubungan perdagangan kedua negara akan tetap timpang. Seperti disimpulkan oleh ekonom perdagangan Biswajit Dhar, lonjakan ekspor saat ini belum layak dirayakan, melainkan harus dijadikan momentum untuk membenahi hambatan struktural yang selama ini membatasi eksportir India.

Leave a Reply