Aksi Kamisan kembali digelar di sekitar Istana Merdeka. Aksi ini menjadi ruang bagi keluarga korban dan pegiat hak asasi manusia untuk terus menuntut penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu yang hingga kini belum tuntas.
Aksi yang pertama kali berlangsung pada 18 Januari 2007 itu kini telah memasuki tahun ke-19. Meski waktu terus berjalan, semangat peserta aksi dinilai tetap konsisten menjaga tuntutan utama: keadilan dan pengungkapan kebenaran. Informasi tersebut dilansir dari Antara, Minggu (18/1/2026).
Di luar tuntutan keadilan, Aksi Kamisan juga berupaya menampilkan wajah aksi massa yang lebih bertanggung jawab, salah satunya melalui perhatian terhadap kebersihan. Setiap kegiatan yang melibatkan banyak orang hampir pasti menghasilkan sampah, sehingga kesadaran untuk mengelola sampah menjadi bagian penting agar ruang publik tetap nyaman.
Namun, persoalan kebersihan masih kerap muncul. Sisa konsumsi peserta, seperti gelas air mineral, sedotan, botol minuman, hingga bungkus makanan, terkadang masih terlihat berserakan setelah rangkaian orasi selesai. Meski ada relawan yang berinisiatif mengumpulkan sampah secara mandiri, isu ini tetap menjadi catatan dalam setiap pelaksanaan aksi.
Karena itu, koordinator lapangan dan pegiat Aksi Kamisan rutin mengingatkan peserta untuk ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan. Dalam salah satu kegiatan, imbauan disampaikan agar peserta datang dengan tertib dan meninggalkan lokasi dalam keadaan bersih.
Teman-teman, tetap jaga kebersihannya ya. Datang bersih, pulang pun juga harus bersih, ujar koordinator lapangan, dikutip dari Liputan6.com, Kamis (15/1/2026).
Di lapangan, peserta aksi juga saling mengingatkan bila ada yang kedapatan membuang sampah sembarangan. Upaya kecil seperti ini diharapkan bisa membentuk kebiasaan baru dalam aksi massa, sejalan dengan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Aksi Kamisan, Sampah Masih dalam Batas Wajar
Petugas pengangkut sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kecamatan Gambir, Abidin, menilai volume sampah dari pelaksanaan Aksi Kamisan masih tergolong terkendali, meski jumlah massa terlihat cukup ramai.
Kalau dari ramainya memang kelihatan penuh, parkiran saja sampai penuh. Tapi sampahnya sendiri nggak terlalu banyak, biasanya nggak sampai satu mobil. Kebanyakan sisa botol minum dan bekas jajan, ujar Abidin.
Ia menjelaskan, penanganan kebersihan di sekitar lokasi umumnya dilakukan oleh Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Gambir. Sementara DLH lebih banyak berperan dalam pengangkutan sampah yang sudah dikumpulkan.
Kalau untuk penyapuan biasanya dari PPSU wilayah sini, kami dari DLH bagian pengangkutan saja, katanya.
Menurut Abidin, kesadaran peserta aksi terhadap kebersihan juga cukup baik. Sisa sampah yang tertinggal umumnya segera ditangani petugas sehingga area sekitar kegiatan tetap bersih dan kondusif.
Menjaga Kenyamanan, Termasuk Soal Asap Rokok
Selain sampah fisik, kenyamanan di tengah keramaian massa juga menjadi perhatian. Salah satu hal yang kerap dikeluhkan adalah asap rokok yang terkumpul di tengah barisan. Hal ini dianggap mengganggu, mengingat Aksi Kamisan diikuti peserta dari berbagai usia dan latar belakang.
Zaidan Faresia Ahmad, mahasiswa yang hadir dalam Aksi Kamisan, menilai ruang publik tetap membutuhkan etika bersama, termasuk dalam kebiasaan merokok.
Saya sebenarnya bukan orang yang masalah kalau ada yang merokok. Tapi tetap ada aturan dan etikanya. Karena banyak juga yang nggak merokok, itu harus dihargai. Kalau mau merokok, ya minggir dulu, jangan di tengah kerumunan, tegas Zaidan.
Ia menambahkan, penertiban perokok di tengah barisan idealnya dilakukan dengan cara yang tertib dan persuasif agar suasana aksi tetap nyaman.
Caranya tinggal dibilang baik-baik. Jelasin kenapa nggak boleh merokok di situ, kenapa harus minggir. Itu harus dijelasin pelan-pelan, ujarnya saat di temui Tuna55 di sekitaran lokasi demo.